1.
Inquiry atau menemukan :
A.
Model pembelajaran inquiry
“Model pembelajaran inquiry adalah
rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara
kritis dan analisis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu
masalah yang dipertanyakan” (Sanjaya, 2006:194).
Menurut piaget (mulyasa, 2008:108) bahwa model
pembelajaran inquiry adalah model pembelajaran yang
mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas
agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan
pertanyaan-pertanyaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan
penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang
ditemukannya dengan yang ditemukan siswa lain. Dengan melihat kedua
pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran inquiry adalah
model pembelajaran yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk
melakukan eksperimen sendiri sehingga dapat berpikir secara kritis untuk
mencari dan menemukan jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
Pembelajaran inquiry banyak
dipengaruhi oleh aliran belajar kognitif, menurut aliran ini belajar pada
hakikatnya adalah proses mental dan proses berpikir dengan memanfaatkan segala
potensi yang dimiliki setiap individu secara optimal.
Teori belajar lain yang
mendasari pembelajaran inquiry adalah teori belajar konstruktivistik.
Menurut Piaget (Sanjaya,2006:194) pengetahuan
itu dapat bermakna manakala dicari dan ditemukan sendiri oleh siswa. Setiap
individu berusaha dan mampu mengembangkan pengetahuannya sendiri melalui skema
yang ada dalam struktur kognitifnya. Skema itu secara terus menerus diperbarui
dan diubah melalui proses asimilasi dan akomodasi. Di sisi lain (Kunandar,
2007:309) Pengetahuan dan kemampuan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil
mengingat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Dengan demikian
tugas guru adalah merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan,
apapun materi yang diajarkannya, dan juga mendorong siswa untuk mengembangkan
skema yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi.
B.
Karakteristik atau ciri-ciri model pembelajaran inquiry
Menurut Muslich (2008), ada
beberapa hal yang menjadi karakteristik atau ciri-ciri utama
pembelajaran inquiry adalah sebagai berikut:
1)
Pembelajaran inquiry menekankan
pada aktifitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya pembelajaran inquiry menempatkan
siswa sebagai subjek belajar.
2)
Seluruh aktivitas yang dilakukan
siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri sesuatu yang dipertanyakan
sehingga dapat menumbuhkan
sikap percaya diri (self belief).
3)
Membuka intelegensi siswa dan
mengembangkan daya kreativitas siswa.
4)
Memberikan kebebasan pada
siswa untuk berinisiatif dan bertindak.
5)
Mendorong siswa untuk berfikir
intensif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.
6)
Proses interaksi belajar
mengajar mengarahkan pada perubahan dari teacher centered kepada student
centered.
C.
Tujuan dan manfaat model pembelajaran inquiry
Model
pembelajaran inquiry berorientasi pada siswa yang bertujuan mengembangkan kemampuan berfikir secara sistematis, logis dan kritis atau
mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.
Dengan demikian, dalam
pembelajaran inquiry siswa tak hanya di tuntut agar menguasai
materi pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang
di milikinya secara optimal (Sanjaya, 2006:195).
Adapun manfaat model pembelajaran inquiry ini
adalah meningkatkan kemampuan berfikir siswa untuk mencari dan menemukan
sendiri materi yang akan di pelajarinya, melatih kepekaan diri, mengurangi rasa
kecemasan, menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan motivasi, dan
partisipasi belajar, meningkatkan tingkah laku yang positif, meningkatkan
prestasi dan hasil belajar.
D. Teknik model
pembelajaran inquiry
Adapun teknik model
pembelajaran inquiry dapat dikemukakan atau dapat dilihat
sebagai berikut:
1)
Dapat membantu dan
mengembangkan konsep pada diri siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang
konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
2)
Membantu dan menggunakan
ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru.
3)
Membantu siswa untuk berfikir
dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersikap objektif, jujur dan terbuka.
4)
Memberi kepuasan yang bersifat
intrinsik.
5)
Situasi proses belajar menjadi
lebih merangsang.
6)
Dapat mengembangkan bakat dan
kecakapan individu.
7)
Memberi kebebasan siswa untuk
belajar sendiri.
E.
Keunggulan dan kelemahan model pembelajaran inquiry
·
Keunggulan Model pembelajaran inquiry merupakan model pembelajaran
yang banyak di anjurkan dan digunakan di sekolah khususnya sekolah dasar.
Menurut sanjaya (2006) ada beberapa keunggulan
dari model pembelajaran ini diantaranya adalah:
a)
Model pembelajaran inquiry merupakan
model pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif,
dan psikomotor secara seimbang sehingga pembelajaran melalui model ini dianggap
lebih bermakna.
b)
Model pembelajaran inquiry dapat
memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
c)
Model pembelajaran inquiry merupakan
model pembelajaran yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi moderen
yang mengagap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya
pengalaman.
d)
Dapat melayani kebutuhan siswa
yang memiliki kemampuan diatas rata-rata, artinya siswa yang memiliki kemampuan
belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
·
Kelemahan
Disamping memiliki keunggulan, model
pembelajaran inquiry juga memiliki kelemahan. Sebagaimana
dikemukakan oleh sanjaya (2006) kelemahannya antara lain:
a)
Jika model pembelajaran inquiry digunakan
sebagai model pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan
keberhasilan siswa.
b)
Model ini sulit dalam
merencanakan pembelajaran oleh karena itu terbentur dengan kebiasaan siswa
dalam belajar.
c)
Kadang-kadang dalam mengimplementasikanya
memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan
waktu yang telah ditentukan.
d)
Selama kriteria keberhasilan
belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka model
pembelajaran inquiry akan sulit diimplementasikan oleh setiap
guru.
F.
Langkah-langkah model pembelajaran inquiry
Pada dasarnya model pembelajaran inquiry di
lakukan atau ditekankan kepada proses mencari dan menemukan, dimana materi
pelajaran tidak diberikan secara langsung kepada siswa. Menurut Sanjaya
(2006:202) langkah-langkah model pembelajaran inquiry ini dapat
diuraikan sebagai berikut:
a)
OrientasiLangkah orientasi
adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsive.
Langkah ini guru mengondisikan siswa siap melaksanakan proses pembelajaran.
Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahap ini adalah:
1.
menjelaskan topik, tujuan dan
hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.
2.
menjelaskan pokok-pokok
kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan.
3.
Merumuskan masalahMerumuskan
masalah adalah langkah membawa siswa kepada persoalan yang mengadung teka teki.
Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir
memecahkan teka teki itu.
4.
Merumuskan hipotesisHipotesis
adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai
jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya.
5.
Mengumpulkan dataMengumpulkan
data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji
hipotesis yang diajukan.
6.
Menguji hipotesisMenguji
hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan
data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data.
7.
Merumuskan kesimpulanMerumuskan
kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan
hasil pengujian hipotesis.
Dengan melihat langkah-langkah di atas, maka model pembelajaran inquiry akan
efektif manakala:
1)
Guru mengharapkan siswa dapat
menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan. Dengan
demikian dalam pembelajaran inquiry penguasan, materi
pelajaran bukan sebagai tujuan utama pembelajaran, akan tetapi yang lebih
dipentingkan adalah proses belajar.
2)
Jika bahan pelajaran yang akan
diajarkan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah
kesimpulan yang perlu pembuktian.
3)
Jika proses pembelajaran
berangkat dari rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu.
4)
Jika guru akan mengajar pada
sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemauan dan kemampuan berpikir.
pembelajaran inquiryakan kurang berhasil diterapakan kepada siswa
yang kurang memiliki kemampuan untuk berpikir.
5)
Jika jumlah siswa yang belajar
tak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru
2.
Konstruktivisme
B.
Konstruktivisme
Asumsi sentral metode kontruktivistik adalah bahwa belajar itu menemukan.
Meskipun guru menyampaikan sesuatu kepada siswa mereka melakukan proses mental
atau kerja otak atas infrmasi itu masuk ke dalam pemahaman mereka.
Konsrtruktivistik dimulai dari masalah (sering muncul dari siswa sendiri)
dan selanjutnya membantu siswa menyelesikan dan menemukan langkah-langkah
pemecahan masalah tersebut.
Metode konstruktivistik ditekankan pada siswa seharusnya diberi tugas-tugas komplek, sulit, dan realistis. Kemudian mereka diberi bantuan secukupnya untuk menyelesaikan tugas. Tugas kompleks itu misalnya proyek, simulasi, menulis untuk dipresentasikan. Mengaitkan ide-ide dengan pengetahuan sebelumnya dapat dilakukan pada awal sebuah topik baru, tetapi tidak boleh dibatasi pada bagian pelajaran yang itu saja.
Metode konstruktivistik ditekankan pada siswa seharusnya diberi tugas-tugas komplek, sulit, dan realistis. Kemudian mereka diberi bantuan secukupnya untuk menyelesaikan tugas. Tugas kompleks itu misalnya proyek, simulasi, menulis untuk dipresentasikan. Mengaitkan ide-ide dengan pengetahuan sebelumnya dapat dilakukan pada awal sebuah topik baru, tetapi tidak boleh dibatasi pada bagian pelajaran yang itu saja.
Guru akan perlu mencari tau apakah murud-muridnya tau tentang topik itu
sebelum pembelajaran dimulai (Dejager, 2002).
Modeling, aspek kunci lain dari pengajaran konstruktivis, guru melaksanakan
sebuah tugas yang kompleks dan menunjukkan kepada murid proses-proses yang
dibutuhkan untuk melaksanakan tugas itu; atau, guru dapat memberi tau murid
tentang pikiran dan strateginya selama menyelesaikan sebuah soal.
Scaffolding, guru memberikan bantuan kepada murid untuk mencapai
tugas-tugas yang belum dapat mereka kuasai sendiri, dan kemudian sedikit demi
sedikit menarik dukungannya.
Coaching adalah proses memotivasi pelajar, menganalisis performa mereka dan
memberikan umpan-balik tentang kinerja mereka. Guru membantu murid selama
mereka melesaikan soal-soal secara mandiri atau di dalam kelompok, yang akan
memotivasi dan mendukung murid.
Refleksi terjadi bila murid membandingkan solusinya dengan solusi para
”pakar” atau murid-murid lain. Ini erupakan salah satu momen kunci belajar dan
dapat didorong oleh guru yang memberikan contoh-contoh tandingan untuk berbagai
pendapat yang dikemukakan oleh murid-murid lain, dan dengan membrikan
kesempatan kepada murid untuk mendiskusikan temuan, dan strategi mereka (Duffi
dan Jonassen, 1992).
3. SETS:
C.
SENT
Definisi SETS menurut the NSTA Position Statement 1990 (dalam Kuswati, 2004:11) adalah memusatkan permasalahan dari dunia nyata yang memiliki komponen Sains dan Teknologi dari perspektif siswa, di dalamnya terdapat konsep-konsep dan proses, selanjutnya siswa diajak untuk menginvestigasi, menganalisis, dan menerapkan konsep dan proses itu pada situasi yang nyata.
Pendekatan SETS/ Salingtemas diambil dari konsep pendidikan STM (Sains, Teknologi, dan Masyarakat), pendidikan lingkungan (Environmental Education/EE), dan STL (Science, Technology, Literacy).
Definisi SETS menurut the NSTA Position Statement 1990 (dalam Kuswati, 2004:11) adalah memusatkan permasalahan dari dunia nyata yang memiliki komponen Sains dan Teknologi dari perspektif siswa, di dalamnya terdapat konsep-konsep dan proses, selanjutnya siswa diajak untuk menginvestigasi, menganalisis, dan menerapkan konsep dan proses itu pada situasi yang nyata.
Pendekatan SETS/ Salingtemas diambil dari konsep pendidikan STM (Sains, Teknologi, dan Masyarakat), pendidikan lingkungan (Environmental Education/EE), dan STL (Science, Technology, Literacy).
Dalam pendekatan Salingtemas atau
SETS (Science, Environmental, Technology and Society) konsep pendidikan
STM atau STL dan EE dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan
(Depdiknas, 2002:5).
4. Pemecahan Masalah:
D.
Pemecahan masalah
Menurut Sudirman, dkk. (1991 : 146) adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha mencari pemecahan atau jawabannya oleh siswa.
Menurut Sudirman, dkk. (1991 : 146) adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha mencari pemecahan atau jawabannya oleh siswa.
Menurut Sudirman, dkk. (1991 : 146) adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha mencari pemecahan atau jawabannya oleh siswa.
Menurut Sudirman, dkk. (1991 : 146) adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha mencari pemecahan atau jawabannya oleh siswa.
5. Diskusi:
E.
Diskusi
Diskusi adalah aktivitas dari sekelompok siswa, berbicara saling bertukar informasi maupun pendapat tentang sebuah topik atau masalah, dimana setiap anak ingin mencari jawaban / penyelesaian problem dari segala segi dan kemungkinan yang ada. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan : 1994).
Menurut Hasibun dalam bukunya Proses Belajar Mengajar (2006:10) mengatakan bahwa diskusi merupakan proses penglihatan dua atau lebih individu yang berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan atau sasaran yang sudah tertentu melalui cara menukar informasi, mempertahankan pendapat atau pemecahan masalah.
Metode diskusi adalah cara penyajian pembelajaran, di mana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah, yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama.
Diskusi adalah aktivitas dari sekelompok siswa, berbicara saling bertukar informasi maupun pendapat tentang sebuah topik atau masalah, dimana setiap anak ingin mencari jawaban / penyelesaian problem dari segala segi dan kemungkinan yang ada. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan : 1994).
Menurut Hasibun dalam bukunya Proses Belajar Mengajar (2006:10) mengatakan bahwa diskusi merupakan proses penglihatan dua atau lebih individu yang berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan atau sasaran yang sudah tertentu melalui cara menukar informasi, mempertahankan pendapat atau pemecahan masalah.
Metode diskusi adalah cara penyajian pembelajaran, di mana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah, yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama.
6. Tanya Jawab
F.
Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.
Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.
Hal ini sejalan dengan pendapat
Sudirman (1987:120) yang mengartikan bahwa “metode tanya jawab adalah cara penyajian
pelajaran dalam bentuk pertanyaan
yang harus dijawab, terutama
dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.”
Lebih lanjut dijelaskan pula oleh Sudirman (1987:119) menyatakan bahwa metode tanya jawab ini dapat dijadikan sebagai pendorong dan pembuka jalan bagi siswa untuk mengadakan penelusuran lebih lanjut (dalam rangka belajar) kepada berbagai sumber belajar seperti buku, majalah, surat kabar, kamus, ensiklopedia, laboratorium, video, masyarakat, alam, dan sebagainya.
Lebih lanjut dijelaskan pula oleh Sudirman (1987:119) menyatakan bahwa metode tanya jawab ini dapat dijadikan sebagai pendorong dan pembuka jalan bagi siswa untuk mengadakan penelusuran lebih lanjut (dalam rangka belajar) kepada berbagai sumber belajar seperti buku, majalah, surat kabar, kamus, ensiklopedia, laboratorium, video, masyarakat, alam, dan sebagainya.
Sementara itu, dalam Petunjuk Teknis Kurikulum 1994 (1996:26) dinyatakatan
bahwa “metode tanya jawab adalah
suatu cara mengajar atau menyajikan materi melalui pengajuan
pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan siswa memahami materi tersebut.
Penggunaan metode ini dengan baik dan tepat,
akan dapat merangsang minat dan motivasi siswa dalam belajar. Beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam penggunaan metode tanya jawab adalah:
1) Materi menarik dan menantang serta memiliki nilai
aplikasi tinggi.
2) Pertanyaan bervariasi, meliputi pertanyaan tertutup
(pertanyaan yang jawabannya hanya satu kemungkinan) dan pertanyaan terbuka
(pertanyaan dengan banyak kemungkinan jawaban).
3) Jawaban pertanyaan itu diperoleh dari penyempurnaan
jawaban-jawaban siswa.
4) Dilakukan dengan teknik bertanya yang baik.
(Depdikbud, 1996:26).
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa metode tanya jawab adalah
suatu metode pembelajaran yang dilakukan dengan cara pengajuan-pengajuan
pertanyaan yang mengarahkan siswa untuk memahami materi pelajaran dalam rangka
mencapai tujuan pembelajaran.
Langkah-Langkah Penggunaan Metode Tanya Jawab
Untuk menghindari penyimpangan dari pokok persoalan, penggunaan metode tanya jawab harus memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut :
Untuk menghindari penyimpangan dari pokok persoalan, penggunaan metode tanya jawab harus memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut :
a) Merumuskan tujuan tanya jawab sejelas-jelasnya dalam
bentuk tujuan khusus dan berpusat pada tingkah laku siswa.
b) Mencari alasan pemilihan metode tanya jawab.
c) Menetapkan kemungkinan pertanyaan
yang akan dikemukan.
d) Menetapkan kemungkinan jawaban
untuk menjaga agar tidak menyimpang dari pokok persoalan.
e) penyediakan kesempatan bertanya bagi siswa.
Berdasarkan
langkah-langkah yang di atas, maka tindakan guru dalam menggunakan metode tanya jawab harus
dipersiapkan secermat mungkin dalam bentuk rencana pengajaran yang detail
dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Menyebutkan alasan penggunaan metode tanya jawab.
b) Mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan
pembelajaran khusus.
c) Menyimpulkan jawaban
siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus.
d) Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya pada hal-hal yang belum dipahami.
e) Memberi pertanyaan atau
kesempatan kepada siswa untuk bertanya pada
hal-hal yang sifatnya pengembangan atau pengayaan.
f) Memberi kesempatan pada siswa untuk menjawab pertanyaan
yang relevan dan sifatnya pengembangan atau pengayaan.
g) Menyimpulkan materi jawaban
yang relevan dengan tujuan pembelajaran khusus.
h) Memberi tugas kepada siswa untuk membaca materi berikutnya di rumah dan
menulis pertanyaan yang akan
diajukan pada pertemuan berikutnya.
7. PENUGASAN:
G. Penugasan
Salah satu metode yang digunakan dalam pembelajaran adalah Metode Resitasi terstruktur.
Salah satu metode yang digunakan dalam pembelajaran adalah Metode Resitasi terstruktur.
Imansjah Alipandie (1984:91) dalam
bukunya yang berjudul “Didaktik Metodik Pendidikan Umum” mengemukakan bahwa :”Metode resitasi terstruktur adalah cara untuk mengajar yang
dilakukan dengan jalan memberi tugas khusus
kepada siswa untuk mengerjakan sesuatu di luar jam pelajaran. Pelaksanaannya
bisa dirumah, diperpustakaan, dilaboratorium, dan hasilnya
dipertanggungjawabkan.”
Menurud Sudirman. N, (1991:141).
Pengertian metode penugasan/ resitasi adalah cara penyajian bahan
pelajaran di mana guru memberikan tugas tertentu
agar siswa melakukan kegiatan belajar
Sedangkan Slameto (1990:115) mengemukakan : Metode resitasi terstruktur adalah cara penyampaian bahan pelajaran dengan memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan dalam rentangan waktu tertentu dan hasilnya harus dipertanggungjawabkan kepada guru.
Sedangkan Slameto (1990:115) mengemukakan : Metode resitasi terstruktur adalah cara penyampaian bahan pelajaran dengan memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan dalam rentangan waktu tertentu dan hasilnya harus dipertanggungjawabkan kepada guru.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan
bahwa metode resitasi terstruktur adalah
pemberian tugas kepada
siswa di luar jadwal sekolah atau diluar jadwal pelajaran yang pada akhirnya
dipertanggungjawabkan kepada guru yang bersangkutan.
Metode resitasi terstruktur merupakan salah satu pilihan metode mengajar seorang guru, dimana guru memberikan sejumlah item tes kepada siswanya untuk dikerjakan di luar jam pelajaran. Pemberian item tes ini biasanya dilakukan pada setiap kegiatan belajar mengajar di kelas, pada akhir setiap pertemuan atau akhir pertemuan di kelas.
Metode resitasi terstruktur merupakan salah satu pilihan metode mengajar seorang guru, dimana guru memberikan sejumlah item tes kepada siswanya untuk dikerjakan di luar jam pelajaran. Pemberian item tes ini biasanya dilakukan pada setiap kegiatan belajar mengajar di kelas, pada akhir setiap pertemuan atau akhir pertemuan di kelas.
Pemberian tugas ini merupakan salah satu
alternatif untuk lebih menyempurnakan penyampaian tujuan pembelajaran khusus.
Hal ini disebabkan oleh padatnya materi pelajaran yang harus disampaikan
sementara waktu belajar sangat terbatas di dalam kelas. Dengan banyaknya
kegiatan pendidikan di sekolah dalam usaha meningkatkan mutu dan frekuensi isi
pelajaran, maka sangat menyita waktu siswa utnuk melaksanakan kegiatan belajar
mengajar tersebut.
Rostiyah (1991:32) menyatakan bahwa
untuk mengatasi keadaan seperti diatas, guru perlu memberikan tugas-tugas diluar jam pelajaran.
Sumiati Side (1984:46) menyatakan
bahwa pemberian tugas-tugas berupa PR mempunyai
pengaruh yang positif terhadap peningkatan prestasi belajar Bahasa Indonesia.
Salah satu strategi belajar Bahasa
Indonesia yang baik adalah memperbesar frekuensi pengulangan materi/ dengan
memperbanyak latihan soal-soal sehingga menjadi suatu keterampilan yang dapat
melatih diri mendayagunakan pikiran.
Tampaknya pemberian tugas kepada siswa untuk
diselesaikan di rumah, di laboratorium maupun diperpustakaan cocok dalam hal
ini, karena dengan tugas ini
akan merangsang siswa untuk melakukan latihan-latihan atau mengulangi materi
pelajaran yang baru didapat disekolah atau sekaligus mencoba ilmu pengetahuan
yang telah dimilikinya, serta membiasakan diri siswa mengisi waktu luangnya di
luar jam pelajaran. Dengan sendirinya telah berusaha memperdalam pemahaman
serta pengertian tentang materi pelajaran.
Teori Stimulus-Respon (S – R)
mendukung dalam hal ini yaitu : Prinsip utama belajar adalah pengulangan. Bila
S diberikan kepada obyek maka terjadilah R. Dengan latihan, asosiasi antara S
dan R menjadi otomatis. Lebih sering asossosiasi antara S dan R digunakan makin
kuatlah hubungan yang terjadi, makin jarang hubungan S dan R dipergunakan makin
lemahlah hubungan itu (Herman Hudoyo, 1990 : 5).
8. Karya Ilmiah
H. Karya Ilmiah
Jenis - Jenis Karya Ilmiah :
1) Makalah, Menurut bahasa, makalah
berasal dari bahasa Arab yang berarti karangan. Makalah adalah karya tulis
(ilmiah) paling sederhana.
2) Kertas Kerja, adalah makalah yang
memiliki tingkat analisis lebih serius, biasanya disajikan dalam lokakarya.
3) Skripsi, adalah karya tulis ilmiah
yang mengemukakan pendapat penulis berdasar pendapat orang lain dimana karya
ilmiah yang ditulis berdasarkan hasil penelitian lapangan, didukung data dan
fakta empiris-objektif, baik berdasarkan penelitian langsung observasi lapangan
atau penelitian di laboratorium, atau studi kepustakaan dan dipertahankan di
depan sidang ujian (munaqasyah) dalam rangka penyelesaian studi tingkat Strata
Satu (S1) untuk memperoleh gelar Sarjana.
4) Tesis, adalah karya ilmiah yang
ditulis dalam rangka penyelesaian studi pada tingkat program Strata Dua (S2),
yang diajukan untuk dinilai oleh tim penguji guna memperoleh gelar Magister.
5) Disertasi, adalah karya ilmiah yang
ditulis dalam rangka penyelesaian studi pada tingkat Strata Tiga (S3) yang
dipertahankan di depan sidang ujian promosi untuk memperoleh gelar Doktor (Dr.)
6) Artikel, adalah sebuah karangan
prosa yang dimuat dalam media massa, yang membahas isu tertentu, persoalan,
atau kasus yang berkembang dalam masyarakat secara lugas.
7) Esai, adalah ekspresi tertulis dari
opini penulisnya. Sebuah esai akan makin baik jika penulisnya dapat
menggabungkan fakta dengan imajinasi, pengetahuan dengan perasaan, tanpa
mengedepankan salah satunya.
8) Opini, adalah sebuah kepercayaan
yang bukan berdasarkan pada keyakinan yang mutlak atau pengetahuan sahih, namun
pada sesuatu yang nampaknya benar, valid atau mungkin yang ada dalam pikiran
seseorang apa yang dipikirkan seseorang penilaian.
9) Fiksi, adalah isinya yang berupa
kisah rekaan.
9. Metode demonstrasi
I. Metode demonstrasi
Metode demonstrasi adalah
pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada
penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh
peserta didik secara nyata atau tiruannya (Syaiful, 2008:210).
Metode demonstrasi adalah metode
mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan
melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media
pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan
(Muhibbin Syah, 2000:22).
Sementara menurut Syaiful Bahri
Djamarah, (2000:2) bahwa metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk
memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan
bahan pelajaran.
Menurut Syaiful (2008:210) metode demonstrasi
ini lebih sesuai untuk mengajarkan bahan-bahan pelajaran yang merupakan suatu
gerakan-gerakan, suatu proses maupun hal-hal yang bersifat rutin. Dengan metode
demonstrasi peserta didik berkesempatan mengembangkan kemampuan mengamati
segala benda yang sedang terlibat dalam proses serta dapat mengambil
kesimpulan-kesimpulan yang diharapkan.